Posts Tagged ‘Hidup’

Pikiran Yang Membelenggu

Tuesday, August 4th, 2009

Hampir seluruh persoalan hidup bermula dari ketidakmauan kita menerima hidup ini apa adanya. Kita tak mampu berkompromi pada kenyataan. Kita tak sudi melepaskan kacamata paradigma dan melihat realitas secara sederhana. Kita lebih suka bermain-main dengan persepsi. Kita lebih senang berlindung membenarkan pikiran diri sendiri. Padahal itu adalah bentuk lain dari belenggu sehari-hari.

Mari, sejenak kita pejamkan mata. Menemukan kesejukan pikiran. Menggali ketentraman perasaan. Menyentuh jiwa yang tenang. Menekuri setiap tarikan nafas. Menyadari keberadaan kita di bumi ini. Meneguhkan kembali ikrar kita pada semesta yang agung; ikrar untuk mencurahkan yang terbaik bagi hidup ini, dan membiarkan tangan-tanganNya menuntun setiap gerak kita sehari-hari.


Share/Save/Bookmark

1
Tags: , ,
Ditulis dalam kategori Renungan |

Bersyukurlah

Thursday, July 9th, 2009

Jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa kecil yang beragam ini, jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku?

Philip M.Hartner, MD dari Fakultas Kedokteran Stanford UniversityAmerika Serikat, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini. Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari :

57 orang Asia

21 orang Eropa

14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat

8 orang Afrika

52 perempuan

48 laki-laki

80 bukan kulit putih

20 kulit putih

89 heteroseksual

11 homoseksual

6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari

Amerika Serikat.

80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak menenuhi standard

70 orang tidak dapat membaca

50 orang menderita kekurangan gizi

1 orang hampir meninggal

1 orang sedang hamil

1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi

1 orang memiliki komputer

Marilah kita merenungkan analisa Hartner dan mulai dari hal-hal sebagai berikut:

(more…)

Share/Save/Bookmark

0
Tags: ,
Ditulis dalam kategori Renungan |

Hidup Adalah

Wednesday, July 8th, 2009

Hidup adalah masalah pilihan. Memilih untuk bahagia atau untuk sengsara. Memilih untuk dipulihkan atau untuk menyimpan kepahitan. Memilih untuk mengampuni atau untuk mendendam. Hidup adalah masalah pilihan. Kebahagiaan semu bisa anda dapatkan, yang sejati tak jauh dari jangkauan.

Cinta kasih juga bisa anda miliki, namun dendam dan amarah juga bisa anda alami. Persahabatan nan indah bukan impian, pengkhianatan dan kepahitan mungkin anda dapati. Hidup adalah masalah pilihan.Mengenai bagaimana anda menjalani hidup. Mengenai bagaimana anda menghabiskan seluruh waktu. Mengenai bagaimana anda mencapai impian. Dan mengenai bagaimana anda memandang kehidupan.

Ada orang yang menganggap kehidupan sebagai angin yang berhembus. Banyak yang datang dan yang pergi. Tak dapat ditebak, dan tak dapat diselami. Ada pula yang menganggap kehidupan sebagai medan peperangan. Dimana ia harus berjuang tanpa henti. Tanpa kedamaian di hati.

Sementara yang lain menganggap kehidupan sebagai kutuk dari Yang Mahakuasa. Hidup tak lagi berarti bagi dirinya. Ratap tak pernah jauh dari mulutnya. Air mata mengalir siang dan malam, sebab hanyalah duka nestapa yang ada.

Namun… Orang yang berbahagia menganggap kehidupan sebagai suatu emas yang mulia. Harta nan sangat berharga. Anugrah Ilahi yang tak tertandingi. Dijalaninya hidup, dengan asa dan impian. Berjalan dalam jalan Sang Pencipta. Berserah sepenuhnya. Melangkah setapak demi setapak. Sampai didapatinya mahkota kemuliannya.

Hidup adalah masalah pilihan. Yang manakah yang anda pilih? Tanyalah pada diri sendiri. Dan jalanilah hidup anda…..


Share/Save/Bookmark

0
Tags: ,
Ditulis dalam kategori Inspirasi, Motivasi |

Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja

Friday, July 3rd, 2009

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.

Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun.” Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tak runtuh.

Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah tugas kita dalam kerja adalah menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.


Share/Save/Bookmark

0
Tags: , ,
Ditulis dalam kategori Inspirasi |